Syair ini telah dibaca oleh: 115 orang
Naskah diperbaharui 10 November 2009

Tanjung

Kembali ke situs nagari.org     Lihat Situs nagari Tanjung

Nagari Tanjung ikut berjuang melawan rezim Soekarno


Catatan: Ketika terjadi perang saudara di Indonesia (peristiwa PRRI tahun 1958 -1961) nagari Tanjung ikut terlibat.
Sebagai bukti tertulis, Wali nagari Tanjung ikut membubuhkan cap di setiap uang kertas yang beredar ketika itu.
Admin nagari.org megharapkan setiap nagari yang terlibat dalam peristiwa PRRI ini, membuat syair tentang keterlibatan nagarinya dalam perjuangan yang telah kita menangkan pada tahun 1966 (PKI dibubarkan) dan pada tahun 1998 (UU Otonomi Daerah).
Dua butir tuntutan utama PRRI ketika itu tidak dipenuhi oleh pemerintahan presiden Soekarno menjadi pemicu pergolakan daerah.
Semangat berjuang yang telah membuahkan kemenangan besar ini, perlu diwarisi oleh anak-kemenakan untuk menghadapi perang yang sebenar-benarnya perang (lihat pada akhir syair ini)

I. Nagari Tanjung bak surga muncul di dunia

Inilah syair tentang orang kampung
Peristiwa terjadi di nagari Tanjung
Ketika bergolak mereka bergabung
Ditulis dalam bait sambung menyambung

Ijin diminta ke penghulu nagari
Untuk berkisah peristiwa dialami
Bukan saya ahli puisi
Kisah untuk anak cucu nanti

Kalau salah tolong betulkan
Syair ditulis dalam sepekan
Banyak yang lupa atau terlupakan
Peristiwa terjadi tahun enampuluhan

Nagari Tanjung dilingkari bukit
Ada labuah jalan berbelit
Sawah berpematang banyak parit
Menghasilkan padi bersumpit sumpit

Banyak sungai airnya deras
Di situ berbiak ikan Tawas
Sungai berbatu cadas
Di sisinya tumbuh pohon Perawas

Ibarat surga muncul di dunia
Tempat anak bermain ceria
Penduduk tenteram hidup seiya
Mereka semua berakhlak mulia

Tanah Sirah tempat siluncuran
Pelepah Pinang untuk kenderaan
Tebing miring dijadikan sandaran
Anak bermain, lupa makan

Malamnya anak mengaji di surau
Lalu diajar silat Lintau
Itulah kebiasaan remaja Minang Kabau
Bekal kelak untuk merantau

Sawah terhampar berlupak lupak
Pematangnya panjang bagaikan ombak
Ditumbuhi rumput makanan ternak
Sangat indah bila dikodak

Sungai di Tanjung ada lima
Airnya jernih seperti aqua
Bisa diminum saat dahaga
Tiada polusi racun berbahaya

II. Situasi yang berubah

Menurut berita kabar orang
Presiden Soekarno sangat berang
Sumatera Tengah akan diserang
Negeri siap untuk berperang

Februari 58 perubahan mendadak
Penduduk Tanjung bertambah banyak
Pengungsi datang secara serentak
Mereka diterima seperti dunsanak

Ini nasib para pengungsi
Gaji bulanan telah terhenti
Tiada tanah untuk bertani
Menunggu bantuan sanak senagari

Sanak senagari orang beradat
Dagang yang datang disambut hangat
Saling membantu sesama umat
Meski bukan saudara dekat

Tiada terdengar di gunjing percakapan
Mencari kesempatan di dalam kesempitan
Orang berebut cari kebaikan
Saat membantu kelompok perjuangan

Harapkan pahala dari ”Yang di Atas”
Semuanya berkorban dengan ikhlas
Membantu perjuangan sekilo emas
Atau hanya secupak beras

Kepada pengungsi dari kota
Rumah dipinjamkan tidak disewa
Kalau makan ikut bersama
Pengungsi senang berhati lega

III. Nagari Tanjung di persimpangan jalan

Tanjung jadi lokasi perlintasan
Para komandan membawa pasukan
Jumlahnya banyak terhitung ratusan
Mereka singgah diberi makan

Dari Lintau menuju Agam
TP 1 berjalan di malam kelam
Membawa karaben serta meriam
Setiap regu jumlahnya enam

Dari Pasaman hendak ke Sijunjung
Melewati bukit serta gunung
Masuk kampung ke luar kampung
Juga singgah di nagari Tanjung

Walaupun tembakan berdentum dentum
Nasi disiapkan dapur umum
Disertai air untuk diminum
Ibarat membantu kerabat kaum

Para pemuda anggota TP
Menyandang bedil jenis LE 2
Ketika berkomunikasi memakai kode
Yakin berjuang bukan ber ere ere 3

Kode digunakan ketika malam
Misalkan kode ”daun mempelam”
Teriakkan ”daun”, lalu diam
Jawaban yang benar: ”mempelam”

Sebelum bertanya kita berandai
Kalau jawaban telah sesuai
Itulah kawan, tak perlu dicurigai
Runding dan diskusi bisa dimulai

Bila panggilan dijawab salah
Alamat badan ditimpa susah
Dapat mati bersimbah darah
Jadi sasaran tembakan terarah

Untuk menjaga daerah perlintasan
Bukit dijadikan tempat bertahan
Benteng dibuat di pinggir hutan
Oleh musuh tak mudah kelihatan

Batalyon bernama Harimau Minang
Kapten Badaruddin pimpinan perang
Sifatnya tegas tapi tenang
Kepada anak buah dia sayang

Badaruddin orang luhak Limapuluh
Kabarnya berasal dari Payakumbuh
Ketika sulit tak pernah mengeluh
Kepada Achmad Husein dia patuh

Pasukan istimewa Baringin Sati
Anggotanya banyak berjumlah sekompi
Mereka apel setiap pagi
Menunggu sarapan sebungkus nasi

Baringin Sati kompi istimewa
Komandan bernama Muhir Aloha
Anggotanya banyak parewa kota
Mereka bergabung secara sukarela

Ibarat memberi anak kandung
Itulah sumbangan orang Tanjung
Nasi bungkus berkarung-karung
Membantu perjuangan secara langsung

Sejak awal sampai terakhir
Sumbangan datang bak air mengalir
Rakyat memberi tak perlu kuatir
Tiada yang hilang walau sebutir

Ini bukan cerita bohong
Perang dibiayai bergotong royong
Setiap orang ikut menyokong
Walau sumbangan ubi sepotong

IVa. Kota Batusangkar

Batusangkar ibukota kabupaten
Dahulu bernama Fort van der Capellen
Belanda mendirikan benteng permanen
Kokoh dan kuat karena disemen

Kota Batusangkar sering diserang
Membuat sepi dan lengang
Tentara Pusat tak bisa tenang
Setiap malam prajurit begadang

Dari Tanjung diatur serangan
Pasukan berbaris beriring iringan
Membawa senjata berat dan ringan
Kota Batusangkar sebagai tujuan

Agar PRRI tidak masuk kota
Batusangkar dilingkari kawat tembaga
Kawat dialiri arus terbuka
Bila tersentuh bisa celaka

Tentara Pusat bertahan di benteng
Di dalam bangunan beratap genteng
Tiada tersedia air ledeng
Hanya disiapkan makanan kaleng

IV. Kantor Koterketj

Komando Teritorial Tingkat Kecamatan
Yang mengatur logistik pasukan
Zainal Abidin nama pimpinan
Sebelum perang pegawai penyiaran

Orangnya tampan badan tinggi
Pakaian necis sangat rapi
Tutup kepala memakai topi
Terus siaga setiap hari

Kantor menumpang di rumah Datuk Soda
Tidak dipungut uang sewa
Niatnya menyumbang secara sukarela
Andil perjuangan tanggungan bersama

Zainal Abidin punya ajudan
Untuk membantu tugas pekerjaan
Hubungannya bak mamak dengan kemenakan
Mereka berjaga secara giliran

Maklum kondisi suasana perang
Setiap saat musuh menyerang
Kalau lengah nyawa melayang
Diterjang peluru yang tak diundang

V. Tahun Pertama ketika Perang

Tahun pertama ketika perang
Tentara Pusat tak berani datang
Nagari ditembak berulang-ulang
Penduduk lari tunggang langgang

Ibarat Israfil datang mendesir
Lalu meledak seperti petir
Bom pecah berbutir-butir
Itulah meriam disebut Mortir

Bom meledak serentak delapan
Kiri, kanan, belakang depan
Kampung Mandahiling jadi sasaran
Mortir ditembakkan setiap pekan

Batu dan tanah ikut beterbangan
Membuat debu seperti pusaran
Diri merasa sangat ketakutan
Ingat Allah, minta perlindungan

Walau bukan permintaan diri
Takdir Tuhan berlaku pasti
Terkena bom ada yang mati
Ataupun luka di tangan kaki

Sering tubuh telah hancur
Darah di badan masih mengucur
Orang yang mati segera dikubur
Tanpa menunggu sanak sedulur

Karena situasi siap siaga
Mayat dikuburkan tergesa-gesa
Kalau tembakan kembali bergema
Jenazah ditinggal ntuk sementara

VI. Pesawat terbang menyerang Tanjung

Suatu pagi dihari Jumat
Di langit melayang dua pesawat
Kapal terbang sangat cepat
Terlihat jelas dari darat

Pesawat terbang setinggi kelapa
Pilotnya tampak bertopi baja
Mencari sasaran yang direncana
Itulah Mustang pembawa bencana

Pesawat Mustang jenis pemburu
Membawa senjata serta peluru
Ada sasaran hendak dituju
Kantor Koterkec akan disapu

Kantor menumpang di rumah Dt. Soda
Di kampung Mandahiling sebelah utara
Di situ juga ada senjata
Diintai musuh sejak lama

Bom dijatuhkan salah sasaran
Menimpa rumah yang di depan
Rumah hancur bak diterjang topan
Atapnya terbang jatuh berserakan

Ketika itu penulis masih kecil
Belum kuat menyandang bedil
Ingin bertempur rasanya muskil
Makanya tetap jadi orang sipil

Dalam situasi keadaan panik
Orang berlari hilir mudik
Disertai tangis serta pekik
Bandar dicari meski berisi cirik

Tempat yang aman untuk sembunyi
Di dalam bandar berisi tahi
Jijik dan busuk tiada peduli
Menunggu pesawat terbang pergi

VII. Lubang perlindungan

Dari subuh sampai petang
Baik malam atau siang
Anak cucu serta eyang
Semua berlindung di dalam lubang

Lubang digali untuk berlindung
Setinggi tegak, sebatas hidung
Lima orang bisa ditampung
Di dalam lubang posisi mencangkung

Inilah gaul sebenarnya gaul
Takut dan gentar yang membuhul
Di dalam lubang orang berkumpul
Mendengar tembakan susul menyusul

Mungkin karena banyak teman
Di dalam lubang terasa aman
Hanya perut tak mau berkawan
Karena seharian tidak makan

Kalau terdengar ada tembakan
Meski berjongkok di atas jamban
Celana dipakai langsung dikenakan
Mencari tempat lubang perlindungan

VIII. Perang kejam, rakyat yang jadi korban

Perang saudara tidak manusiawi
Kampung padat dibom artileri
Rakyat tak bersalah ikut mati
Meninggalkan dendam rasa benci

Ketika Tanjung melawan Belanda
Peristiwa terjadi di agresi kedua
Musuh tidak gunakan pesawat udara
Apalagi bom membabi buta

Belanda memakai senjata ringan
Untuk mencari pejuang kemerdekaan
Gerilyawan tertangkap lalu dibebaskan
Mereka dibujuk agar tidak melawan

Pemerintah Soekano lain lagi
PRRI dianggap musuh negeri
Harus dikikis segera dibasmi
Bila perlu dibunuh mati

Saat penduduk mencari nafkah
Menangkap belut dengan lukah
Jubek ditembak di pematang sawah
Dia mati bersimbah darah

Mak Jubek kepala keluarga
Bukan parewa, tidak tentara
Beliau hanya manusia biasa
Orang sipil tak bersenjata

Jubek dibunuh di tepi batang Kalano
Oleh tentara dari Diponegoro
Dibawah pimpinan kolonel Pranoto
Militer ditugaskan rejim Soekarno

Tahun 65 Pranoto terbukti
Bersama Latif kawan seideologi
Mendukung gestapu pki
Lalu dikurung di dalam bui

Walau tidak sedang bertempur
Tentara menembak tanpa diatur
Ke sekeliling kota peluru dihambur
Banyak penduduk mati gugur

Kak Nurma orang Melayu Atas
Menjadi korban perang yang ganas
Tiga beranak langsung tewas
Ketika tidur terlelap pulas

Saat tentara sedang kuatir
Atau mungkin mabuk bir
Meriam ditembakkan tanpa pikir
Korban menerima itulah takdir

Ketika membunuh tanpa dalih
Menabur dendam ibarat benih
Rasa perasaan tak bisa pulih
Nyawa tak mungkin diganti pitih

IX. Ijok

Setiap pekan Tanjung ditembaki
Dengan senjata meriam artileri
Banyak penduduk menyelamatkan diri
Ke dalam hutan mereka mengungsi

Menempuh jalan berkelok kelok
Belukar dirambah dengan golok
Dangau dibangun seperti pondok
Orang menyebut sebagai ”ijok”

Tempat ijok di dalam rimba
Tidak seperti suasana kota
Alamnya tenang bak surga
Dihuni binatang berjenis margasatwa

Dangau dibangun dilereng bukit
Di samping pohon akar melilit
Tiada tampak matahari terbit
Susah terlihat dari langit

Pohon besar pencegah erosi
Pusaka kaum anak nagari
Selalu dijaga sejak bahari
Tak pernah ditebang atau digergaji

Dangau tersembunyi tidak tampak
Di kelilingi pohon banyak semak
Dihuni keluarga anak-beranak
Dengan tetangga Beruk dan Cigak

Suasana ijok ketika perang
Seperti outbound jaman sekarang
Ijok tidak perlu pakai uang
Outbound ladangnya para pedagang

X. Tentara Pusat menduduki nagari Tanjung

Supaya perang tidak mulus
Jalan ke Pato tak boleh tembus
Titian di Tanjung harus diputus
Kenderaan militer tak bisa terus

Bulan Desember tahun enam puluh
Pusat datang laksana guruh
Dengan konvoi berisi penuh
Pertahanan Marapalam telah jatuh

Pato dimasuki di sisi belakang
Dari Lintau musuh datang
Lalu turun ke Tanjung Sungayang
Di batang Selo konvoi terhalang

Di tepi batang Kalano konvoi terhenti
Membuat jembatan untuk meniti
Kerambil ditebang tak diganti rugi
Pohon dipotong lalu digergaji

Untuk menyeberang Selo Tongah
Jalan terhalang lapau Mak Angah
Tentara mengambil jalan yang mudah
Kedai dibakar sampai musnah

Pemilik memohon bibir bergetar
Agar kedainya tidak dibakar
Tapi tentara tak mau dengar
Akhirnya Mak Angah kena tampar

Ini pesan Soekarno cs
Kalau tak ingin bernasib apes
Rakyat jangan lakukan protes
Harus diam seperti bola kempes

Ke dalam rimba PRRI menyuruk
Lalu OPR segera dibentuk
Wali nagari langsung ditunjuk
Dia bernama Abdul Muluk

Abdul Muluk aktivis partai
Sehari hari jualan di kedai
Dia termasuk orang yang pandai
Dengan penduduk Muluk berdamai

Kepada partai Muluk patuh
Memerangi PRRI sampai luluh
Dia tidak sembarang tuduh
Hanya sedikit korban yang jatuh

OPR akronim dari kalimat
Artinya: Organisasi Perlawanan Rakyat
Anggotanya preman dibayar Pusat
Menerima upah setiap Jum’at

Dalam nagari di kecamatan Sungayang
OPR didaftarkan 30 orang
Diberi seragam dan senapang
Lalu dilatih pagi dan petang

Karena politik dijadikan pengulu
Dipakai kebijaksanaan belah bambu
Rakyat disiapkan untuk diadu
OPR dipilih dari partai tertentu

XI. Pertahanan tentara di puncak bukit

Pertahanan dibuat di puncak bukit
Pandangan luas ke kaki langit
Posisi PRRI menjadi sulit
Masuk kampung langsung dikuntit

Supaya PRRI tidak menerobos
Penjagaan dibuat bagaikan poros
Di bukit Tangah didirikan pos
Membutuhkan biaya serta ongkos

Di puncak bukit Kayu Sebatang
Tempat keramat Tanjung Sungayang
Ada luak airnya tenang
Orang berziarah banyak yang datang

Tempat keramat kuburannya wali
Lingkungan tenang suasana sunyi
Ketika berdoa kepada Ilahi
Memohon selamat penduduk nagari

Kondisi berubah bertolak belakang
Kayu di puncak segera ditebang
Tempat keramat langsung dibuang
Orang berziarah juga dilarang

Merasa kuat ibarat banteng
Adat nagari dianggap enteng
Tempat keramat dijadikan benteng
Penduduk melihat geleng geleng

Ini peristiwa di puncak Simbatak
Pekan Ahad sedang sesak
Ke arah pasar tentara menembak
Banyak yang mati bapak dan anak

Karena peristiwa dibuat kelam
Penulis ingatkan dengan gurindam
Perbuatan tentara melanggar HAM
Biasanya PBB tak mau diam

XII. Tanjung dipagari betung

Untuk menghalangi PRRI masuk kampung
Nagari dipagari dengan betung
Pagar dibuat sambung menyambung
Dari Bakoreh sampai ke Sawah Tanggung

Penduduk dikerahkan dengan dipaksa
Membangun pagar tanpa gapura
Dibalik pagar OPR berjaga
Siap menembak pakai senjata

Di dalam kampung OPR berpatroli
Mencari musuh simpatisan PRRI
Termasuk pula anggota Masyumi
Ke mana pergi selalu diawasi

Yang dicurigai langsung ditangkap
Kepada wali disuruh menghadap
Kalau ditanya jangan salah ucap
Setiap jawaban harus mantap

Walau dipagar disekeliling Tanjung
Gerilyawan leluasa masuk kampung
Mereka dibantu kalau terkepung
Ada yang disembunyikan di dalam lumbung

Di lumbung padi Mansur disembunyikan
Menunggu malam pukul sembilan
Untuk kembali masuk hutan
Membawa persediaan bahan makanan

Inilah kenangan saudara Maramis
Dia ditangkap malam Kemis
Karena dicurigai anti Komunis
Lalu diinterogasi pertanyaan sinis

Maramis berupaya cari selamat
Kejadiaan dilaporkan ke tentera Pusat
OPR bertindak telah sesat
Maramis bebas tak jadi diikat

Ke luar kampung dia menghindar
Pergi sembunyi ke Batusangkar
Saat itu Maramis bernazar
Niat beliau tak bisa diradar

XIII. Perang sebenar-benarnya perang

Inilah perang sebenarnya perang
Melawan globalisasi kaum pedagang
Bila kalah menjadi wayang
Hidup diatur oleh Ki Dalang

Kaum dagang bernama kapitalis
Tentara Ki Dalang disebut selebritis
Arah kiblat Hollywood dan Paris
Ucapan sahadat: “Ikuti modis”

Kalau dinasehati tidak patuh
Ibarat penyakit tak akan sembuh
Sepanjang hari selalu mengeluh
Itulah cerdik membawa runtuh

Kini nagari telah berubah
Perang saudara selesai sudah
Rejim Soekarno mengaku kalah
Ambil pelajaran dari sejarah

Bila melupakan adat filosofi
Kiamat sugro pasti terjadi
Bumi senang padi menjadi
Jadikan acuan sepanjang hari

Beginilah suasana di Tanjung Sungayang
Hidup bertani sangatlah senang
Saat manusia belum dikejar barang
Tiada kolektor menagih utang

Bak mitraliur ditembakkan ke nagari
Perlengkapan dipromosikan para selebriti
Disertai gosip petang dan pagi
Supaya barang segera dibeli

Lingkungan hidup bisa rusak
Ketika orang menangkap Landak
Walau bukan binatang ternak
Satwa bermanfaat mengurangi katak

Tidak layak karena nasi sepiring
Kalau petani memburu Tenggiling
Siklus kehidupan dia gunting
Karena satwa sangat penting

Kekayaan alam tak ternilai
Seperti unggas burung Punai
Bisa bersiul seperti serunai
Tidak pantas untuk digulai

Hutan dan rimba harus dijaga
Bila digadaikan ke orang kota
Dijadikan lokasi tujuan wisata
Tempat maksiat berhura hura

Kalau mencontoh kepada yang sudah
Lokasi wisata maju meriah
Daerah Puncak bisa ditelaah
Di situ boleh kawin mut’ah

Melihat tuah kepada nan menang
Pulau Bali contoh yang terang
Ribuan turis lalu lalang
Bercelana kotok ber bh kutang

Kerja besar yang harus dimulai
Mengumpulkan uang beramai-ramai
Mendidik kemenakan diajar pandai
Sarjana bermutu siap pakai

Ninik mamak harus berunding
Ada peringatan yang sangat penting
Kondisi berada di lampu kuning
Boncah dan sumur telah kering

Ingatlah sumpah nenek moyang
Pabila anak cucu tidak sembahyang
Lupa adat, hilang Minang
Ke bawah tidak berurat
Ke atas tidak berpucuk
Di tengah-tengah digirik kumbang

1 T.P = Tentara Pelajar
2 L.E = Lee Enfield, sejenis bedil digunakan dalam P.D 2
3 ber ere-ere (MK) tidak serius